Selasa, 11 Desember 2012

Tulisan kawan : " Bapak Mentri Apa Kabar? UN Akan Membunuh Kurikulum 2013! "


Bapak Mentri Muhammad Nuh yang terhormat, biarkanlah saya sebagai mahasiswa pendidikan mengeluarkan uneg-uneg saya kepada anda. Saya yakin, karena anda adalah seorang mentri pendidikan, (sekali lagi) saya yakin anda pasti akan mengerti arti dari sebuah kritik. Kritik adalah indikasi era baru setelah sekian lama pendidikan kita diam membisu. Jangankan kritik, guru-guru kita di bawah sana terus menerus bertanya ‘Ada yang belum jelas anak-anak?’ ‘Ada yang tidak kalian sepakati?’
Bicaralah! Itu adalah pesan terbaru dari pendidikan era reformasi yang sebelumnya bersifat otoritatif bak sistem untuk mengajari robot. Oleh karenanya, saya harap dengarkanlah kami Bapak. Dengarkanlah kami, jangan bertindak seperti tuhan yang keputusannya tanpa cela.
Yth Bapak Mentri, apa yang saya sampaikan ini pada dasarnya adalah kegalauan saya, kegalauan saya sebagai seorang mahasiswa pendidikan yang sedang melihat carut marutnya sistem pendidikan di Indonesia. Sejujurnya ilmu saya masih rendah pun pengalaman saya mengajar belum ada. Namun begitu saya sudah bisa berpikir untuk melihat ada yang salah dengan keputusan-keputusan pendidikan yang selama ini diambil.
Bapak pasti tahu, bahwa pendidikan adalah keniscayaan bagi sebuah bangsa, sebuah masyarakat. Bangsa Jepang terkenal dengan kisahnya yang begitu menghargai para tenaga pendidik. Itu karena mereka menyadari bahwa pondasi dari segala lini kehidupan adalah pendidikan. Bukan uang, bukan emas.. tetapi pendidikan. Tentu maksud saya bukan hanya pendidikan formal yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Pendidikan terjadi setiap saat pada masa manusia hidup. Dimulai ketika bayi ketika seorang ibu menanamkan cinta kasih pada anaknya hingga ketika tua saat seorang kakek mengerti arti hidup ketika mendapati cucu kecilnya berlari-larian. Pendidikan berlangsung seumur hidup. Guru kita adalah orangtua kita, tetangga kita, tv kita, hingga negara kita. Tetapi sayangnya, di Indonesia ini, makna pendidikan dipersempit sebatas pendidikan formal. Pemahaman seperti itu tak ubahnya menganggap bahwa kebudayaan sinonim dengan kesenian daerah. Padahal faktanya, budaya melingkupi hal yang lebih luas, dari mulai sopan santun hingga detil-detil sudut pandang yang khas.

Disini, saya ingin bertanya pada anda, kemana bapak pergi? Kemana anda ketika mendapati TV kita yang tanpa tayangan-tayangan semacam national geography? TV adalah media ‘pendidik’ paling dahsyat sekarang ini. tapi apa yang manusia Indonesia dapatkan dari Tvnya? Tidakkah anda menyadari bahwa kesibukan anda dengan pendidikan formal telah mereduksi peran anda ?
Bahkan pereduksian makna pun terjadi pada pendidikan formal yang menjadi fokus anda selama ini. Bapak, pernahkah anda mengajar? Ketika anda mengajar, apa yang anda fokuskan dari kegiatan itu? Prosesnya? Atau anda setiap kali was-was siswa-siswa anda tidak lulus ujian yang dilaksanakan tanggal sekian?
Evaluasi itu penting. Tetapi ketika evaluasi itu mencederai proses pendidikan, maka evaluasi itu lebih baik anda sinngkirkan. Buang jauh-jauh dari pikiran anda. Fokus pada proses. Tingkatkan kinerja tenaga pendidik, sarana-prasarana dan segala-galanya.
Apa yang saya maksudkan pada dasarnya mengacu pada kebijakan bapak dalam melaksanakan UN. Apakah anda pikir siswa yang lulus UN bisa dijamin mutunya? Saya nyatakan 100% tidak. UN (baca : Ujian Hafalan Nasional) adalah pembunuh sistemik yang merongrong dunia pendidikan kita. dia mematikan kreatifitas guru, dia mengaburkan tujuan pendidikan, dia mereduksi kemampuan siswa, dan dia akan memuat rancangan kurikulum manapun menjadi rusak.
Bayangkanla bila anda seorang guru matematika. Di satu sisi anda harus mengajarkan materi yang begitu banyak kepada siswa namun di sisi yang lain anda harus menggunakan model dan metode pembelajaran yang tidak melulu ceramah. Bisa anda atasi itu? saya yakin anda masih bisa sedikit bernafas. Tetapi ketika UN datang maka saya yakin anda akan melupakan semua metode dan model yang anda ketahui dan terus men-drill siswa-siswa anda dengan ratusan soal dan puluhan hafalan rumus. Tujuan pendidikan pun melenceng : agar lulus UN. Fungsi mata pelajaran pun kabur : menjadi tujuan alih-laih menjadi alat untuk mencapai tujuan.
Bapak yang terhormat, matematika adalah ilmu logika. lucu sekali ketika saya membayangkan seorang guru menuliskan sederet rumus rumit di papan tulis tanpa pemahaman logika sama sekali. Pokoknya, hafalkan rumusnya dan terapkan itu!
Soal-soal UN yang diberikan pun hanya sebatas itu. Klop lah.
Sekarang bayangkan saja lulusan macam apa yang dihasilkan dari para penghafal ini? Apa dengan belajar matematika mereka memiliki pola pikir yang lebih baik? Apakah nalar mereka berkembang? Kalau iya, tercapailah tujuan pendidikan nasional kita yakni ‘mencerdaskan kehidupan bangsa!’
Kalau tidak, maka benarlah paradigma yang selama ini berkembang : bahwa matematika hanya untuk orang dengan logika tinggi! Lalu apa fungsi matematika jika demikian adanya? Ketika orang bodoh tidak terbantu dengan pembelajaran matematika? Ketika orang bodoh malah makin pusing alih-alih tambah pintar? Ketika sekelompok siswa berbakat malah jadi sekumpulan beo penghafal rumus? Tidak ada kecuali sebagai unjuk kebodohan yang terus-menerus berlangsung.
Bapak mentri percayalah bahwa manusia memiliki daya pikir luar biasa yang selalu siap dikembangkan. Berikanlah dua buah apel kepada anak kecil dan tanyakanlah ada berapa apel? Lalu berikanlah sebuah apel dan sebuah jeruk lalu tanyakanlah ada berapa apel?
Jangan pernah anda suruh siswa menghafal 1a tambah 1a sama dengan 2a! ketika mereka mampu mengkonsepkan masalah jeruk dan apel, mereka telah menemukan konsep yang menyatu pada diri dan alam ini alih-alih melihatnya sebagai benda asing dari Mars!
Akhir kata,
Bapak Mentri yang terhormat, dengan sedikit alasan di atas, saya pikir perubahan kurikulum dari KTSP menjadi kurikulum 2013 pun tak akan banyak berguna. Realita telah menjelaskan pada kita semua bahwa kegagalan KTSP (salah satunya) dikarenakan program UN sendiri. hendaknya bapak mau melihat dengan jernih mengapa Indonesia termasuk peringkat bawah pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar